Ribuan Petani Kulon Progo Melawan Kejahatan Korporasi hingga bertempur terhadap Polisi

Posted on October 21, 2009

0


Sejak pagi hari (Senin, 20 Oktober 2009) sekitar 2000 petani pesisir yang tergabung dalam PPLP (Paguyuban Petani Lahan Pantai) Kulon Progo sudah menempati jalan di depan kantor bupati Kulon Progo, Wates. Mereka datang dengan 28 truk, untuk menyampaikan sikap penolakan rencana proyek penambangan pasir besi di acara konsultasi publik proyek penambangan pasir besi. Sikap masyarakat pesisir ini adalah bentuk aksi yang sudah puluhan kali ditempuh Petani Pesisir Kulon Progo.

 

Memasuki Areal Pemkab Kulon Progo

Konsultasi Publik ini dihadiri oleh oleh pemprakarsa proyek PT. Jogja Magasa Iron (JMI), instansi pemerintah, LSM, perangkat desa dan masyarakat. Acara ini mengundang masyarakat pesisir (petani) terdampak tak lebih dari 25 orang. Tetapi saat memperlihatkan undangan, ada sejumlah orang yang ditolak masuk ruangan. Alasan panitia, nama mereka tidak terdaftar di buku tamu walau mereka memegang undangan. Sempat terjadi negosiasi alot dengan panitia penyelenggara, karena sejumlah masyarakat ini tergabung dalam PPLP, dilarang masuk. Hingga akhirnya Ketua PPLP, Supriyadi dan beberapa orang yang terdaftar saja diperbolehkan masuk Gedung Kaca, Pemkab Kulon Progo.

Sementara di luar gedung, aksi ribuan petani terus berlanjut melakukan orasi, pembentangan spanduk, papan protes dan aksi teatrikal tentang petani melawan pemodal tambang dan birokrat berdasi. Penjagaan ketat dilakukan berlapis dengan menurunkan 600 personil polisi (PHH) dan mobil water cannon. Polisi sempat terkecoh hingga warga bisa melewati lapis pertama penjagaan polisi dan berhamburan di hadapan penjagaan lapis kedua. Massa yang berhadapan langsung tepat di depan penjagaan lapis pertama ini, sempat menggeser dan memindahkan besi palang pembatas polisi. Massa kemudian menggantinya dengan membuat garis batas antara mereka dan polisi berupa spanduk penolakan bertuliskan “Masyarakat Pesisir Kulon Progo Menyatakan Menolak Penambangan Pasir Besi dan Eksploitasi Alam Sampai Titik Darah Penghabisan”.

Di dalam Gedung, Wakil Ketua PPLP, Sutarman menginterupsi sidang yang dipimpin oleh Wakil Bupati Kulon Progo, Mulyono. Sutarman membacakan sikap resmi PPLP dihadapan Dirut PT.JMI Philip Welten, Komisaris PT.JMI: GKR Pembayun, GBPH Joyokusumo, KPH Condrokusumo, KPH Ariyo Seno, Lutfi Hayder dan peserta sidang lainnya. Dalam pernyataan sikap yang disampaikan Sutarman bahwa “Proyek Penambangan Pasir Besi ini berpotensi merusak sistem sosial masyarakat, merusak lingkungan dan ekonomi rakyat mandiri, maka masyarakat pesisir melalui komunitas PPLP(Paguyuban Petani Lahan Pantai) mendesak pemerintah Pusat Indonesia, Provinsi Yogyakarta dan Kabupaten Kulon Progo untuk segera membatalkan rencana penambangan biji besi di kawasan pesisir Kulon Progo.”

Sutarman juga menyampaikan supaya Pemkab Kulon Progo dan PT. JMI segera bertemu langsung masyarakat pesisir di luar gedung demi memahami aspirasi masyarakat yang sesungguhnya. Namun seusai pernyataan sikap dibacakan, Wakil Bupati Kulon Progo Mulyono, selaku moderator sidang publik menyatakan “Apabila nanti ada hal-hal yang menggangu acara ini maka sepenuhnya ketertiban dan keamanan kami serahkan kepada Bapak Kapolres dan Jajarannya. Oleh karena itu apabila bapak/ibu yang masuk dengan baik dengan undangan ataupun tanpa undangan, bisa mengikuti dengan tenang kami silahkan, namun kalau mengganggu jalannya sidang tentu hal ini kami serahkan sepenuhnya kepada bapak kapolres Kulon Progo”. Pernyataan itu dinilai terlalu intimidatif oleh Sutarman, tidak lama setelahnya 20 orang yang tergabung dalam PPLP memutuskan keluar meninggalkan sidang. Supriyadi, Ketua PPLP menegaskan, “Keinginan kami masuk menyampaikan aspirasi dihalang-halangi. Jumlah masyarakat terdampak saja di dalam tidak sampai 20 persen. Acara ini bukan forum konsultasi publik, melainkan forum legitimasi untuk meloloskan AMDAL Proyek Penambangan Bijih Besi.”

Aksi di luar gedung yang dihadang barikade Polisi tetap mengiginkan agar pihak JMI dan Pemkab Kulon Progo untuk menemui petani pesisir. Sutarman kembali masuk ruang sidang dan meminta agar Pemkab dan JMI menemui warga, namun permintaan itu ditolak mentah oleh pemerintah. Akhirnya perwakilan PPLP yang menghadiri sidang merapat ke massa aksi dan menyampaikan hasil pertemuan mereka di dalam gedung pertemuan. Massa aksi masih menunggu sambil melakukan orasi dan syalawatan. Salah satu syalawatan yang dilantunkan berbunyi “Shalatullah shalaamullaah a’laa thaha rosullullilaah… Pak Bupati sing bayar Petani, Pak DPR sing bayar Petani, Pak Polisi sing bayar Petani, Ati-ati ojo nganti mati.”

Sekitar jam 11 siang hari mulai terik, massa aksi mulai kepanasan, kemudian berkumpul dalam satu barisan. Seorang peserta aksi, Ulin Nuha, sempat berorasi dari mobil komando dengan mengatakan “Ternyata darah kita masih lebih merah dari investor. Karena mereka tidak mau mengobarkan diri mereka, seperti kita mengorbankan diri untuk alam ini”. Sekejab secara spontan para petani pesisir mulai merapat ke barikade polisi. Petani mulai berjuang merangsek ingin bertemu dengan berbagai pihak di dalam gedung yang berkepentingan terhadap penambangan. Aksi orasi berubah menjadi aksi langsung dengan daya inisiatif melampaui garis barikade polisi.

PDVD_026

Aksi dorong antara petani dan polisi pun terjadi. Polisi terdorong mundur ke belakang oleh kekuatan aksi petani. Serangan ini membuat mundur lapisan pertama satu barikade polisi menjadi berada di belakang barikade kedua dengan tameng yang lebih tinggi. Polisi pun menyerang dengan memukul para petani dari belakang lapis pertama yang sedang menempel dengan aksi massa petani. Petani terus bertahan menyerang dengan kemampuan tanpa senjata. Banyak petani muda membalas dengan ‘tangan kosong’ memukul dan menendang polisi yang memiliki seragam pertahanan, tameng dan dipersenjatai pemukul yang lengkap.
Suara tembakan seperti ledakan deras berbunyi, dan bersamaan dengannya daya serang petani yang sangat spontan hadir dengan melempar batu yang berada di sekitar lintasan rel kereta api. Sebelah selatan garis bentrokan ini terdapat areal lintasan Kereta Api. Hujan batu yang sangat deras dan bertubi-tubi pun tak bisa dihindari. Polisi pun balik menyerang dengan batu dan tembakan gas air mata. Meski sudah terdengar suara tembakan sampai 3 kali petani masih tetap berjuang dengan cara menyerang dan bertahan membuat jarak ruang dengan polisi yang semakin terdesak mundur ke belakang. Akhirnya menurut pengakuan Widodo, seorang petani Koordinator Lapangan PPLP, “Polisi mengarahkan tembakan gas air mata ke hadapan saya, peluru gas air mata itu meluncur kencang, lalu saya menghindar hingga melewati setengah meter di depan kepala”. Ledakan tembakan gas air mata ini sempat terdengar sampai lebih dari 5 kali. Aksi petani masih terus menyerang pun memilih bertahan menghindar dari sesak dan perihnya gas air mata, dengan berkumpul di alun-alun tempat truk mereka diparkir.

Mobil water cannon sempat disemprotkan dan mengenai mobil komondo aksi. Meski massa aksi petani sudah menjauh dari depan real gedung Pemkab Kulon Progo, masih terjadi tembakan gas air mata yang jauhnya sampai ke tengah jalan alun-alun mendekati kerumunan massa. Seorang ibu berasal dari desa Karang Wuni yang tidak mau namanya disebutkan, sambil berjalan dan berusaha mengeluarkan muntahan mualnya mengatakan “Polisi mau membunuh petani. Lihat saja, kami akan ingat kejadian ini”.

Posted in: BERITA OBJEKTIF