Petani Hadang Dua Menteri: Tolak Tambang Besi di Kulon Progo

Posted on March 17, 2009

1


“Menteri itu ternyata benar-benar ada acara di sini”, kata seorang petani pesisir Kulon Progo bernama Sitik. Dia sedang bersiap-siap bersama ratusan kawannya dari desa Garongan jalan serempak ke arah desa Karang Wuni tempat diselenggarakannya sebuah acara yang rencananya di hadiri oleh 2 orang menteri.

Pukul 10.00 ratusan warga yang menamakan diri PPLP (Paguyuban Petani Lahan Pantai) tiba berkumpul di jalan persimpangan tiga desa Karang Wuni dan terus berdatangan. Mereka merencanakan penghadangan Menteri yang akan menghadiri acara “Launching PNPM Kelautan dan Perikanan” di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Karangwuni, Wates, Kulonprogo kemarin (17/3).

Sejak awal, selain Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi, Aburizal Bakrie selaku Menteri Kesejahteraan Rakyat akan menghadiri acara ini, namun karena berhalangan akhirnya digantikan oleh Menteri Dalam Negeri Mardiyanto, demikian kata Humas Pemkab Kulon Progo Arning Rahayu, SIP. “Siapapun Menteri yang datang, tetap kami hadang dan akan kita lihat apakah mereka mau bicara dengan kami”, kata Widodo koordinator PPLP.
Sekarang jumlah kami yang hadir disini sudah ada sekitar 1500 orang untuk menyatakan Penolakan rencana Penambangan Pasir Besi di tanah kami, kata Eko Koordinator PPLP Desa Karang Wuni sekitar jam 11.00. Melihat jumlah massa yang semakin ramai berkumpul dan berorasi, Polres Kulon Progo dan Polda DIY akhirnya memperketat pengamanan. 2 water cannon dan ratusan polisi huru-hara disiagakan di sepanjang jalan masuk menuju PPI Karang Wuni.

barisan polisi

1 mobil truk polisi membelakangi massa dengan pintu dibiarkan terbuka. 1 mobil wator cannon diarahkan tegak lurus menghadap massa PPLP. Sejumlah warga sempat semakin panas melihat persiapan penjagaan polisi. Sambil menggangkat dan menjatuhkan batu-batu besar, massa membentangkan spanduk sebagai garis batas dihadapan barisan polisi. Beberapa menit kemudian, mobil water cannon diparkir mundur menjauhi massa.

Aksi penolakan tambang besi ini juga dihadiri oleh perempuan, bahkan nenek yang sudah lanjut usia. Sekitar 20 orang perempuan sambil membawa bendera PPLP (Paguyuban Petani Lahan Pantai) melewati penjagaan polisi. Mereka berjalan masuk ke arah dilangsungkannya acara Launching PNPM. Sejumlah polisi mengejar mereka dan menghadang. Seorang polisi menghampiri dengan mengatakan, “Kalau mau ikut masuk acara lapor dulu ke meja panitia di depan, nanti dapat kaos, bu”. Kumpulan ibu-ibu itu cuma tertawa dan membalikkan badan, berjalan kembali ke massa lainnya.
PPLP mulai datang2 rev
Kami hanya ingin memberitahukan bahwa sampai kapanpun kami akan menolak rencana penambangan pasir besi. Kami juga ingin menyampaikan data yang soheh kenapa kami menolak, ujar Supriyadi Ketua PPLP. PPLP sudah menyiapkan kertas tebal berisi surat pernyataan, peta lokasi wilayah penambangan, sampel data produktivita lahan, contoh fotokopi sertifikat lahan dan IMB, daftar KK yang terkena dampak langsung dan surat penghargaan perintis lingkungan hidup terhadap masyarakat pesisir. Supriyadi mengatakan kesempatan ini akan kami gunakan untuk membuktikan kepada pemerintah.

Setelah sejak pagi menunggu akhirnya sirene rombongan menteri terdengar oleh massa PPLP. Mereka merapat berdiri dihadapan polisi yang bersiaga. Widodo dalam orasinya mengatakan “Kami adalah petani mandiri yang menyuburkan tanah pesisir dan tidak pernah dibantu pemerintah sama sekali. Kami akan tetap menolak rencana penambangan pasir besi karena proyek itu hanya bisa merusak alam demi menguntungkan pengusaha”. Dibawah penjagaan ketat, rombongan Menteri Kelautan dan Perikanan serta Menteri Dalam Negeri itu hanya melewati massa saat masuk ke dalam pelabuhan dengan laju pawai mobil yang sangat cepat.

Massa PPLP tidak terlalu perduli saat menteri tidak turun menghadapi warga. Mereka hanya butuh semua orang harus tahu rencana Penambangan Besi di atas tanah pertanian mereka digagalkan. Suati seorang petani perempuan yang sudah tua asal desa Bugel mengatakan “Orang-orang harus tahu, kalau sampai pertambangan jadi, kami mau makan apa, jadi lebih baik perang saja!”

Ditempat terpisah seusai acara Launching PNPM Mandiri, saat ditanyakan tuntutan petani untuk membatalkan penambangan pasir besi, Mardiyanto dan Freddy enggan berkomentar. Freddy hanya melontarkan perlunya ada diskusi dan komunikasi intensif untuk memikirkan masalah ini, agar yang menolak bisa disadarkan akan manfaat jangka panjang.

Saat ditemui kembali dalam sebuah perpustakaan dan warung mandiri bernama “Gerbong Revolusi dan Warung Kejujuran” yang didirikan oleh anak muda Desa Garongan, Widodo berkomentar bahwa aksi massa PPLP tadi ingin tahu sikap menteri dan kita ingin memperlihatkan langsung penolakan berdasar secara langsung ke Pemerintah. “Lihat sendiri, rombongan bermobil mewah itu malah dengan kencang meninggalkan warga petani yang berpanas-panas sejak pagi. Entah karena dia takut atau karena tidak perduli. Padahal kami cuma mau memberikan bukti, kalau kami bertani lebih manusiawi dari pada jadi buruh tambang. Semua warga tadi akhirnya tadi melihat kesombongan para pejabat”, ujar Widodo sambil kemudian menyuput kopi dan memasukkan seribu rupiah dalam sebuah kardus bertulis ‘kotak kejujuran’.

PPL buat garis batas2

Posted in: BERITA OBJEKTIF