Riwayat Pemakan Pasir

Posted on February 24, 2011

0


makan pasir

Pasir adalah riwayat hidup warga pesisir pantai selatan Kulon Progo. Ribuan jiwa di kawasan pantai selatan kabupaten Kulon Progo, Provinsi Yogyakarta ‘makan’ dari pasir. Sampai hari ini mereka masih hidup. Sejak sebelum tahun 1942 warga pesisir sudah berusaha ‘makan’ dari pasir.

Menurut catatan dari sejarah lisan Bapak Arjo Dimejo[1], warga desa Karang Sewu, sebelum tahun 1942 sebagian warga Karang Sewu bertahan hidup dengan merusaha menanam Padi, Ubi Jalar, Kentang dan Kacang di tanah pasir pesisir.

Tapi ketika Jepang datang menjajah, warga tersebut dilarang menjadikan pasir sebagai lahan pertanian. Jepang mencurigai warga penggarap sedang diam-diam membuat garam laut. Setelah Indonesia memploklamirkan sebagai negara merdeka, saat Jepang sudah tidak lagi berdiri di atas tanah pesisir, beberapa warga kembali bertahan ‘makan’ dari pasir. Menurut penuturan Bapak Arjo Dimejo, Soekarno pernah berkunjung tahun 1948 melihat lahan pesisir, dia mempersilahkan warga memanfaatkan lahan. Setelah kedatangannya, warga yang mayoritas petani berbondong-bondong menggarap lahan pesisir pantai yang tanahnya hanya berisi pasir. Seketika, tahun 1970an terjadi angin badai yang memporak-porandakan lahan pertanian dan rumah-rumah warga. Dalam kondisi buruk ini mereka masih saja bertahan, mereka masih saja ingin ‘makan’ dari pasir.

Mereka yang hidup di pesisir selatan adalah orang cubung. Sterotype bernada ejekan yang ditujukan ke warga yang hidup di pesisir oleh warga lain. Orang cubung bermakna orang kampung yang tertinggal atau inferior dan kondisinya penyakitan. Puluhan tahun lalu pasir pantai yang dibarengi panasnya matahari dan kencangnya tiupan angin laut lebih banyak membuat warga mengalami penyakit kulit dan pernafasan, perut dan mata.

Warga pesisir ini bertani dengan cara memanfaatkan lahan yang bukan berisi tanah, tapi pasir, berharap tanaman subur dari air hujan yang turun secara gratis ke atas bumi dan semua dalam kondisi hidup yang kritis. Sampai tahun 1980an pesisir pantai adalah tanah pasir yang sangat kritis. Di tanah pasir yang bisa tumbuh hanyalah tanaman berupa Gulungan pada saat musim penghujan,lalu ketika kemarau semuanya mati. Kemarau membuat banyak petani beralih menjadi buruh di tempat lain, bahkan sampai pergi ke luar pulau jawa, mereka biasanya kembali 6 sampai 12 bulan kemudian. Sampai tahun 1980an pun sebutan orang cubung itu masih kerap ditujukan. Tapi saat tahun-tahun itulah warga pesisir semakin keras berusaha menemukan berbagai cara bertahan melalui alam dengan ‘makan’ dari pasir, meski sambil menghirup pasir demi mempertahankan hidup.

Endong-endongan Melahirkan Pengetahuan Kolektif

Orang yang diejek sebagai orang cubung ini hampir setiap malam suka sekali Endong-endongan. Adat kebiasan warga desa berkunjung ke rumah antar tetangga, berkumpul, bercerita pengalaman mereka satu sama lain[2]. Menurut Iman Rejo seorang warga desa Bugel, hal ini adalah tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup baik jasmani maupun rohani yang secara sadar baik langsung maupun tidak langsung. Saat warga bertemu di waktu malam adalah saat mereka melahirkan gerak yang tidak lagi sendirian. Detik-detik seperti inilah embrio yang menggerakkan petani pesisir Kulon Progo bertahan dan menggerakkan hidupnya. Endong-endongan ini bersifat pertemuan pertemanan, cenderung non-hirarkis, spontan dan terbiasa setiap malam. Saat itulah warga mempertemukan hati dan gagasan.

“Dari segi positip pertemuan hati kehati yang didukung oleh pengalaman-pengalaman, timbulah gagasan dari 3 orang (Iman Rejo, Pardiman, Musdiwiyono) warga Dusun untuk mencoba memanfaatkan lahan pasir yang sangat kritis tersebut dengan berbagai cara dan sistim.”[3]

Pertemuan malam endong-endongan itu di berbagai rumah warga menciptakan relasi kepercayaan individu satu sama lainnya di desa yang kondisinya kritis. Mereka mulai membicarakan masalah secara bersama-sama dan menemukan cara penyelesaian bersama. Awalnya perlakuan mereka menanam di lahan kritis adalah dengan penanganan sendiri-sendiri, tapi kemudian beralih menjadi kebutuhan bersama untuk menemukan cara penanganan lahan. Pengalaman mereka di tempat lain saat menjadi buruh tani maupun buruh tukang ternyata memberi mereka ingatan untuk layak dibagikan dan didiskusikan.

Berbagai gagasan pun yang lahir dari pertemuan individu dan kelompok di pesisir demi menyiasati alam dan bertahan. Tahun 1984 kelompok warga bergotong-royong mulai membuat sumur ladang sederhana. Karena tanah pasir mudah bergerak, mereka membuat lubang yang sangat lebar, sampai berdiameter 5 meter-an dan dengan kedalaman 5-8 m, kemudian diberi srumbung yang dibuat dari bambu. Sumur ladang pun masih menggunakan kerekan dari bambu. Setelah masing-masing sumur selesai dengan sistem bergantian warga melaksanakan pengolahan tanah dengan mencangkul, membuat bedengan melalui metode palir ataupun plantir, kemudian memberi pupuk kandang, lalu menanam. Teknologi dan pengolahan lahan ini mereka lakukan secara bergotong royong.

Eksperimentasi warga petani yang selalu mengamati alam terus berlanjut. Mereka mencoba menanam jagung dengan pola penyiraman tertentu, mencoba menanam tanaman keras Acasia dengan wilayah dan cara tertentu juga. Semua percobaan jeli itu mereka lakukan dengan mengamati alam. Sampai suatu ketika, saat seorang warga berjalan ke ladang menemukan sebatang cabe dapat tumbuh dengan baik dekat dengan pohon kelapa. Petani pun mulai menanam dan merawat cabe dengan pola penemuan pengalaman mereka. Sampai akhirnya banyak pengetahuan pertanian yang mereka temukan sendiri tanpa pernah berguru pada siapapun. Inisiatif mereka berkelompok tani adalah yang mendorong hal ini. Sekarang jumlah kelompok tani di pesisir Kulon Progo sangat banyak sekali, mencapai puluhan.

Petani berhasil menyiasati kebutuhan air dengan membuat sumur ladang. Tadinya sumur ini dibuat sederhana, melubangi tanah pasir dengan lebar 5 meter dan menahannya dengan bambu. Kemudian bambu mereka ganti dengan semen dan akhirnya sekarang dengan beton. Masing-masing sumur ini pun awalnya digali sangat dalam dan hanya ditimba untuk menyiram. Namun petani merasa cara tersebut tidak efektif. Sampai kemudian petani mencoba cara membuat sumur induk dengan menggunakan pompa air, menyambungkannya secara parallel dengan bambu ke bak-bak penampung dari bis beton. Masih merasa kurang, bambu penyalur antar bak diganti dengan memanfaatkan pipa paralon. Mereka memanfaatkan produk modern tapi dengan memahami karakter alam di lahan pesisir pantai.

Petani menyiasati angin kencang dengan membuat tanaman pemecah angin di sekeliling petak lahan garapan, seperti tanaman jarak, sayur pari dan terong. Mereka juga menanam kelapa di sekitaran lahan agar turut memecahkan angin dan tidak lagi menerbangkan tanaman hingga kemudian mati. Dulu pun, lahan pasir berupa gumuk pasir berundak-undak layaknya bukit-bukit padang gurun yang ditumbuhi semak belukar dan sering berpindah-pindah karena dorongan ombak. Tapi kondisi alam ini mampu dikelola warga dengan mengolah rata tanah pasir dan belukar secara gotong-royong, sambil menyisakan bukit gumuk pasir antara pantai dan lahan pertanian.

Ada banyak hal pengalaman mereka menemukan pengetahuan yang penting dicatat, meski tidak harus disebutkan satu persatu. Pastinya para petani ini mengalami proses panjang yang sangat dinamis saat mempertahankan hidup yang sering terpuruk. Mereka pernah dilarang bertani, mereka dihantam angin setiap hari, mereka juga pernah dihantam badai, gumuk pasir mendominasi jadi lahan dengan kondisi sangat kritis dan rawan penyakit. Tapi dengan kebiasaan bertemu satu sama lain, berbagi, berdiskusi, dan menemukan strategi menggerakkan hidup, mereka yang selalu terpuruk dengan cara bertahan dan berbagi kekuatan bersama setiap hari.

Petani pesisir sejak dulu selalu mengalami kesulitan, tapi selalu saja mampu menyelesaikan masalahnya secara mandiri dan otonom, tanpa bantuan pihak luar apalagi pemerintah. Bahkan jalan menuju lahan pun yang dulunya sulit ditempuh, petani meratakan sendiri. Sejak dari hanya membuat jalan sederhana yang ditanami batu-batu sampai akhirnya mereka aspal dengan tangan sendiri adalah hasil gotong-royong dengan dana swadaya warga, tanpa bantuan pemerintah. Begitulah pengakuan semua petani pesisir ketika ditanyakan peran pemerintah. Petani pun tidak pernah mengalami konflik tanah garapan. Petani tahu mana yang menjadi hak garapnya satu sama lain dan tidak pernah mengalami konflik status tanah, karena petani yang mengatur sendiri. Kepercayaan mereka antar setiap orang dan komunitas kelompok tani melampaui kepercayaan relasi para pebisnis yang yakin setelah disucikan di atas kontrak hukum bermaterai.

Saat ini lahan kritis itu sudah sangat subur dengan jerih 40 puluh tahun lebih. Tumbuhan apapun mungkin hidup di atas pasir pantai melalui tangan dan perawatan bersama hidup mereka. Di atas pasir itu ragam tumbuhan holitikultura mampu ditanam sepanjang musim hujan maupun kemarau. Mulai dari cabe, terong, pari, jarak, kancang panjang, padi, jagung, semangka dan banyak lagi jenis sayuran ada di lahan pesisir pantai bertanah pasir sepanjang 25 KM, melalui tangan petani telah menghijaukan bumi. Mereka menanam dengan pengetahuan kolektif, baik melalui pengalaman mengenal teknologi modern dan juga kearifan lokal saat menentukan musim tanam, merawat hidup tumbuhan sampai memanen lahan.

Secara umum tanaman yang jadi komoditas utama petani ini adalah cabe. Namun mereka juga menanam yang lainnya secara musim berkala, seperti musim menanam melon, semangka, terong, sawi bahkan membuat teteran padipun bisa dilakukan petani di tanah pasir. Sampai hari ini setiap kelompok tani masih mendiskusikan kapan musim tanaman tertentu akan diawali dan dilanjutkan dengan tanaman lainnya. Setiap tahun para petani di masing-masing kelompok tani mendiskusikan musim tanam. Mereka berdebat berangkat dari berbagai perspektif, mulai dari kepercayaan terhadap sistem tanggalan jawa, keadaan alam baik tanah, laut dan langit, sampai kemungkinan bentrokan penumpukan panen dengan daerah lain. Berbagi pengetahuan dan menentukan hidup dari pasir tidak dilakukan sendiri, tapi berdasar diskusi setiap kelompok-kelompok tani yang mandiri satu sama lain. Melalui kelompok tani mandiri inilah banyak hal mulai ditentukan secara bersama-sama.

 

Pasir Mau dimakan Pengusaha dan Tuan Tanah

Tahun 1964 pernah dilakukan penelitian penyelidikan kandungan pasir dari Jurusan Geologi Univerisatas ITB. Penelitian yang dipimpin oleh Ir. Junus ini menyelidiki kandungan pasir besi dan air tanah di dalamnya. Saat itu mereka mengebor tanah sampai kedalaman 4-7 m. Ketika itu beberapa warga yang diminta membantu bekerja sebagai tenaga kasar dari daerah setempat menyimpan ingatan bahwa tanah pasir ini di dalamnya ada besi dan air.[4]

Ingatan itu adalah awal yang dipakai masyarakat sekitar untuk memulai mengambil alih hidup mereka setelah 20 tahun kemudian, semacam mencuri pengetahuan dari pihak lain. Iman Rejo, Pardiman dan Musdiwiyono berinisiatif mengajak warga bersama mencoba membuat sumur sebagai sumber hidup. Mereka menemukan air di dalam tanah, air tawar yang jelas tidak asin, bahkan sekalipun berada sekian meter dari bibir pantai selatan. Melalui sumur buatan, ditangan warga dusun lahan kritis dan mati tadi menjadi hidup.

Ingatan itu tapi menjadi berbeda ketika telah dicatatkan di dalam naskah akademis, kemudian dibaca oleh tuan tanah dan diketahui oleh pengusaha. Saat tanah itu mulai subur, memberi makan bahkan mencetak anak petani bersekolah di perguruan tinggi, saat itu juga pencerahan meloncat tiba-tiba di benak pengusaha dan pengklaim otoritas tanah di Kulon Progo. Persekutuan pengusaha dan pengklaim otoritas tanah ini juga ingin ‘makan’ pasir. Persekutuan mereka dalam korporasi bernama PT.JMM (Jogja Magasa Mining).

Pada hari kamis, 6 Oktober 2005, pukul 20.15 WIB terdengar suara imajiner dalam mimpi petani. “Di dalam rahim kandungan pasir pesisir ada besi, sudah seharusnya dikeluarkan, dieksploitasi, dinikmati bukan saja oleh para petani, tapi oleh kita, tinggal kita bilang ini demi masyarakat luas, demi bangsa dan negara”, begitu kira-kira suara dari ruang rapat imajiner dalam mimpi petani, saat detik sebelum penandatangan sebuah akta notaris PT Jogja Magasa Mining.

Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut di atas perseroan dapat melaksanakan kegiata usaha sebagai berikut  :

a. menjalankan usaha dalam bidang pertambangan umum, termasuk pertambangan pasir besi, biji besi, pasir laut dan batu bara.

b. melakukan perdagangan, termasuk dagang impor, ekspor dan antar pulau (interinsulair), bertindak selaku agen perwakilan, agen tunggal, grosir, leveransir, distributor dan supplier(penyalur) dari hasil-hasil pertambagan seperti pasir besi, biji besi, pasir laut dan batu bara, baik untuk perhitungan sendiri maupun untuk perhitungan pihak lain atas dasar komisi

c. mendirikan industri pengolahan dan pemrosesan hasil-hasil petambangan seperti pasir besi, biji besi, apsir laut dan batubara

d. menyediakan jasa dan pelayanan dalam bidang pertambangan

e. menyelenggarakan transportasi dan pengangkutan untuk hasil-hasil pertambangan di darat dengan menggunakan truk[5]

Berdasar bunyi akta notaris ini maka PT. JMM ini memiliki kuasa hukum yang dicatatkan kepada Negara untuk melakukan eksploitasi total atas usaha pertambangan. Perusahaan PT.JMM ini memang baru terbentuk dan usaha mereka di bidang pertambangan memang belum pernah ada. Ada kebutuhan pengalaman eksploitasi tambang dan kebutuhan tambahan modal[6], maka korporasi ini lantas penting mengandeng perusahan lain sebagai kerabat bisnisnya. Berdasar wawancara dengan Lutfi Hayder[7] (Komisaris Jogja Magasa Iron), Indo Mines Limited[8] ikut bergabung dan korporasi Australia Kimberly Diamond juga turut menanamkan modalnya bersama investor lainnya. Kolaborasi korporasi PT.Jogja Magasa Mining, Indo Mines Limited dan investor lain disebut JMI (Jogja Magasa Iron)[9], tapi kemudian baru-baru ini nama itu berubah lagi menjadi JMI (Jogja Magasa International).

Langkah persekutuan pengusaha dan pengklaim otoritas tanah Kulon Progo ini untuk mensukseskan eksploitasi tambang besi sudah sangat tersistematis. Menurut pengakuan Lutfi Hayder selaku Komisaris Jogja Magasa Iron mereka sudah mengumpulkan penggalangan dana yang besar, meski dunia saat ini sedang terkena resesi krisis ekonomi. Dana untuk melakukan studi kelayakan pun sudah tersedia, ada anggaran dana yang diperkirakan untuk 12-18 bulan.

               

Perlawanan Petani VS Kejahatan Korporasi

               Awal tahun 2006 warga pesisir mulai resah dengan rencana proyek penambangan ini. Kegelisahan ini segera menyebar karena para petani menjadi cemas kehilangan alam yang selama ini mereka hidupkan. Mereka berbagi cerita dari orang perorang dan juga di kelompok tani. Sampai akhirnya kelompok-kelompok petani mandiri dari berbagai desa sepanjang pesisir berkumpul untuk berdiskusi. Suatu malam di bulan april, ratusan petani menjadi delegasi dari wilayah dan kelompok berkumpul untuk menentukan sikap. Malam itu para petani saling memberi pendapat dan menganalisa kegelisahan mereka tentang kabar-kabar rencana penambangan itu. Informasi bukti valid soal rencana penambangan pasir besi di atas tanha hidup mereka diungkap malam itu.

Diskusi mengerucut pada 3 opsi sikap. Pertama, petani menerima mutlak rencana penambangan itu. Kedua, petani menerima dengan syarat dan ketentuan tertentu. Ketiga, petani menolak mutlak rencana pembangan itu. Ternyata tak satu orang pun memilih opsi pilihan pertama dan tak satu orang pun memilih opsi kedua. Seluruh petani malam itu menyatakan penolakan secara mutlak rencana berdirinya penambangan pasir besi di tanah hidup mereka.

Malam itu juga para petani merancang strategi perjuangan penggagalan tambang besi. Pertama yang mereka lakukan adalah membentuk wadah bersama. Wadah ini bernama PPLP (Paguyuban Petani Lahan Pantai). Mereka mengorganisasikan diri dengan struktur tidak biasa. Selain ada ketua, sekretaris dan bendahara serta wakil-wakilnya, mereka juga menetapkan para petani tua sebagai penasehat. Disamping itu ada juga yang menjadi koordinator lapangan dari setiap desa, semacam delegasi, uniknya koordinator ini tidak lebih dari 1 orang saja, dan orangnya sering berganti dengan sangat fleksibel. Setiap desa juga memiliki unit-unit PPLP otonom sendiri dengan strukturnya masing-masing. Yang jelas satu hal, tidak ada pemegang otoritas tunggal di struktur PPLP. Seluruh masyarakat pesisir adalah anggota PPLP dan sikap atas berbagai informasi soal penambangan selalu berdasar atas rapat yang berangkat dari rapat unit sampai induk PPLP. Unikny nya lagi tidak akan ditemukan dimana markas PPLP dan sekretariat induk ataupun unit PPLP, karena setap rumah di pesisir adalah tempat mereka untuk berkoordinasi.

PPLP selanjutnya mulai melancarkan banyak aksi. Awalnya mereka melakukan perlawanan tradisional melibatkan tetua dan pemuda dalam tradisi lokal seperti mujahadah, pengajian, ritual tanam petani dan tidur menjaga lahan pesisir. Upaya dialogis dan gerakan mereka mendeklarasikan penolakan tambang besi tidak ditanggapi santun oleh pihak korporasi dan juga pemerintah daerah yang memiliki kepentingan atas Pendapatan Anggaran Daerah. Diam-diam wilayah desa dipesisir disusupi intel dan preman-preman bayaran untuk menggertak masyarakat.

Sebelum puasa ramadhan, 24 Agustus 2007, petani bersepakat mengepung para otoritas daerah Kulon Progo. Petani mulai menggangu eksistensi simbol otoritas di daerah yang tidak pernah adil dan memahami aspirasi rakyat. Hari itu aksi petani sempat bentrok fisik dengan polisi dan ribuan orang itu berhasil masuk ke wilayah simbol kekuasaan kantor Pemkab Kulon Progo. Petani merobohkan pagar dan memaksa polisi untuk meminggir dari aksi maksa. Hari itu, tidak satupun pejabat teras daerah, apalagi Bupati menemui petani. Petani dengan organisasi PPLP mengancam bupati 5X24 Jam untuk mengeluarkan pernyataan menggagalkan rencana penambangan.

Aksi-aksi demontrasi petani terus berlangsung hingga saat ini. Mereka merancang strategi dan taktik demi menggagalkan penambangan besi di tanah pasir pesisir Kulon Progo. Kasus perjuangan petani Kulon Progo merupakan salah satu contoh otentik perlawanan terhadap kekuasaan yang bersifat anti politik, otonom, dan swakelola. Dipangkasnya keterlibatan para politisi dan lsm yang ingin masuk, telah menjadi semacam kesepakatan bersama bahwa perjuangan petani tidak boleh menggantungkan diri pada siapapun. Antara pasir dan besi yang terkandung di dalamnya, ada sebuah gejolak, sebuah gejolak yang takkan surut untuk berjuang melawan setiap bentuk eksploitasi dan dehumanisasi.

24 April 2009,

Tulisan ini bersambung ke “Perlawanan Demi Tanah dan Cinta”


[1] Bapak Arjo Dumejo, ‘Sejarah Lahan Garapan Warga Pesisir Karang Sewu’, tidak diterbitkan

[2] Iman Rejo

[3] Iman Rejo

[4] Imam Rejo

[5] Akta Pendirian Perseroan Terbatas PT. Jogja Magasa Mining No.40. Buntario Tigris Darmawa NG, SH, SE.

[6] Dalam akta notaris dicatat jumlah total modal awal adalah Rp 600.000.000,-

[7] Wawancara Tanggal 12 Maret 2009.

[8] Application For Contract of Works From Government of the Republic of Indonesia.

[9] Rencana Kerja 2009 JMI, Jogjakarta 12 Maret 2009.

Posted in: SEJARAH